PinusPropertyCom – Saat ini marak sekali kita lihat iklan property syariah di media sosial. Ada yang menilai negatif dan ada yang menilai positif. Disini saya hanya akan mengupas sisi bisnis dari property syariah sekaligus menjawab beberapa pertanyaan masyarakat mengenai property syariah


Adapun pertanyaan yang sering terlontar di masyarakat adalah sebagai berikut :

·        Kenapa property syariah DPnya selalu besar yaitu sekitar 30% ?
Jawaban:

Karena pendanaan property syariah murni dari developer dan tidak menggunakan bank, jadi biasanya DP 30% itu digunakan untuk membiayai pembangunan. Tetapi saat ini banyak tersedia property syariah yang DPnya sudah bisa dicicil, DP 0% atau juga yang DPnya tidak sampai 30% dengan menyesuaikan cicilan bulanannya.

 

·        Kenapa serah terimanya harus indent 6bulan , 12 bulan sampai 24 bulan ?
Jawaban:

KPR Syariah umumnya menggunakan Akad istishna/akad pemesanan. Karena untuk membangun itu developer syariah membutuhkan dana sekitar 30%. Jadi biasanya developer menunggu dana 30% itu masuk baru bisa bangun. Tapi saat ini ada juga kok yang bisa lebih cepat pembangunannya. Ada yang 3 sudah 3 bulan. Ada pula yang ready tapi hanya sedikit.

 

Selain itu, inden merupakan hal biasa di property konvensional pun, sedangkan modal mereka ditopang pembiayaan dari perbankan. Mulai dari pembelian lahan hingga pembangunan.

 

·        Kok harganya antara Cash dan Kredit beda? Kan syariah, ini termasuk bunga dan dua akad loh?
Jawaban:

Untuk yang bilang hal itu adalah bunga, maka jawabannya adalah sebagai berikut. Dalam jual beli dibolehkan mengambil margin. Pertanyaannya apakah developer akan mengambil margin untuk yang cash dan kredit sama, itu adalah hak developer.

Biasanya karena ini bermain di sektor jual beli asset dimana nilai asset khususnya property kenaikan tiap tahunnya signifikan maka developer akan menetapkan laba margin yang berbeda dalam sistem pembayaran kredit (biasanya akan dihitung resiko ketelatan bayar, gagal bayar dan nilai asset itu sendiri ketika asset ini lunas).

Apakah itu riba. BUKAN. Itu margin (keuntungan/ laba).
Terus riba itu apa ? Setiap tambahan keuntungan dari nilai hutang yang ditetapkan .

Contoh : Si A akad kredit rumah nilainya akad kreditnya 200 juta, tetapi ternyata nilai cicilan yang harus dibayar si A pada akhirnya jika ditotal adalah 600 juta.
Sedangkan sistem syariah jika si A akad kredit di 200 juta. Maka nilai cicilannya tetap di 200 juta.
Untuk yang jawaban itu 2 akad, maka harus dipahami dulu bahwa yang dibilang AKAD adalah setelah ADA PERSETUJUAN (ijab) antara penjual dan pembeli.
Sedangkan adanya penawaran sistem bayaran dengan harga yang berbeda antara cash dan kredit, itu masih berupa penawaran belum akad. Nanti jika buyer sudah menetapkan sistem mana yang akan dipakai dalam pembayaran, apakah cash atau kredit maka diakad cuma DIAKUI SATU SISTEM PEMBAYARAN yang disetujui kedua belah pihak.

 

·        Kalo konvesional kan lebih aman karena ditanggung bank ?

Kalo mau jujur yuk kita lihatnya dari prespektif berapa banyak developer konvesional yang gagal bangun, lari dari tanggung jawab dll.

 

Silahkan browsing di internet. Ini salah satu contohnya : https://nasional.tempo.co/read/586573/ini-daftar-60-pengembang-bermasalah

 

dan berapa banyak developer syariah yang bermasalah. Jadi harusnya menilainya lebih objektif ya. Kalo dibilang bermasalah ada saja pastinya oknum yang mengatasnamakan syariah tetapi untuk menipu. Yang terpenting, bisa lihat surat-surat perizinan yang dimiliki developer dan track recordnya.

 

JADI APA KEUNTUNGAN/KELEBIHAN PROPERTY SYARIAH?

 

·        TANPA DENDA

Ini adalah sebuah aturan yang sesuai dengan syariat islam dimana denda masuk dalam kategori RIBA karena denda adalah tambahan dalam nilai hutang.
Di sistem syariah tidak mengenal denda, maka bagaimana jika ada customer yang telat?
Maka kebijakan property syariah adalah biasanya memberikan waktu sampai 3 bulan untuk toleransi ketidakmampuan buyer dalam melunasi hutangnya. Dan dimasa itu tidak ada denda.


Jika lewat masa itu maka buyer (customer) akan dipanggil oleh developer untuk diberikan solusi pembayaran, tetapi jika memang dirasa sudah tidak mampu maka unit property yang dimiliki akan dijual bersama. Dan selama masa tunggu dijual itu customer masih tetap dapat menempati unit yang dibeli.
Enakya?

 

·        TANPA SITA

Tanpa sita maksudnya adalah bahwa property yang sudah dibeli oleh customer tidak boleh disita oleh developer walaupun customer tidak mampu melunasi hutangnya.
Solusinya ada dijual bersama dan uang hasil penjualan asset itu digunakan untuk melunasi sisa hutang dari customer. Jika ternyata nilai asset yang dijual ada sisa setelah melunasi sisa hutang ke developer maka itu menjadi hak customer.

Contoh : Si A beli property syariah dg nilai kredit di tahun 2017 senilai 200 juta. Di tahun ke 5 si A mempunyai masalah pembayaran. Padahal sisa hutangnya tinggal 50 juta.
Maka di property syariah akan diberlakukan sistem sebagai berikut:
Property itu setelah 5 tahun nilai assetnya naik jadi dan dijual laku 300 juta. Maka kewajiban customer adalah melunasi yang 50 juta disertai biaya administrasi ke developer sisanya akan menjadi milik si customer (kalo di ibaratkan beli property syariah adalah menabung property)
Bagaimana di property konvensional ? Jika terjadi dengan kasus yang menimpa si A. Maka si A akan mendapatkan surat panggilan lelang plus kena denda dan pinalti. Nah jika tidak mampu melunasi maka asset akan disita
Bagaimana uang yang sdh masuk ? Berapa pun yang sudah masuk maka biasanya hilang (kalo diibaratkan beli property konvesional selama belum lunas bentuknya sewa)

 

·        TANPA BUNGA

Biasanya cicilan rumah bersifat tetap setiap bulannya, tanpa ada penambahan ataupun pengurangan. Opsi harga yaitu cash atau kredit, itu pun sudah disampaikan nominalnya sebelum akad dan tidak akan berubah bertambah walaupun suku bunga naik turun, jadi pilihan harga tergantung Anda yang menentukan.

 

·        TANPA BI CHEKING

Saling percaya..saat wawancara dengan calon pembeli..harus jujur…
Insha Allah krn kita mengusung Syariah..calon pembeli jujur”..
Tetap kita minta rek koran 3 bulan ter akhir( pegawai)dan SLIP GAJI
Rek koran 6 bulan ter akhir ( pengusaha)dan laporan keuangan..
Jadi siapapun bisa mengambil property syariah.

 

·        BERKAH
Point ini terpenting, bahwa kita memastikan memiliki rumah sesuai dengan syariah. Tanpa Unsur RIBA didalamnya. Kita tidak berdosa bila tidak memiliki rumah, tapi kita berdosa bila kita memiliki rumah dengan cara RIBA.